Jumat, 09 Januari 2015




Microbio-Lab
Jual Aneka Isolat Mikroba Untuk Riset dan Industri
Telp : 089630561325




OPTIMALISASI PRODUKSI MINYAK KELAPA DENGAN PROSES FERMENTASI OLEH CANDIDA UTILIS DAN SACCHAROMYCES ELLIPSOIDES LACTOBACILLUS BULGARICUS L CASEI

            Minyak kelapa berasal dan daging buah kelapa ( Cocos nucifera 1), yang dapat diproses secara kering dan secara basalt Proses pernbuatan minyak secara kering dilakukan dengan membuat kopra kemudian dikempa untuk menghasilkan minyak, Proses pembuatan kelapa secara basah dikelompoklcan menjadi 2 cara yaitu proses ekstraksi dan proses fermentasi.(Murdiati, 1988) Proses pembuatan minyak kelapa dengan cara fermentasi, akan memberikan beberapa kemudahan antara lain, tidak boros energi, waktu proses lebih cepat, produksi dalam skala besar akan sangat menguntungkan. Proses fermentasi dapat dilakukan dengan bantuan ragi misalnya campuran antara candida utilis dan saccaromyces ellipsoides, atau secara praktis dengan menggunakan ragi tape, dengan bantuan bakteri asam laktat :Lactobacillus bulgaricus I easel, atau secara praktis dapat digunakan air nira yang telah diasamkan dan dapat pula menggunakan enzim protease sebagai pengurai protein yang terdapat dalam santan kelapa atau secara praktis dapat digunakan isi tubuh kepiting darat (keuyeup atau yuyu ) (14.Linus„ 1998).
            PERUMUSAN MASALAH Produksi minyak kelapa dengan proses fermentasi, merupakan pengganti proses pembuatan minyak kelapa dengan menggunakan panas yang boros energi, dan karena jumlah energi yang tidak terkendali dengan baik menyebabkan mutu minyak kelapa akan turun. Proses fermentasi dapat menghasilkan minyak dengan kualitas yang konstan setiap saat, hanya dengan mengatur perbandingan bahan baku dengan ragi atau enzim yang dipergunakan, dan teknologi fermentasi ini dapat dilaksanakan di pedesaan Keberhasilan produksi minyak kelapa secara kuantitatif dan kualitatif dengan cara fermentasi ditentukan oleh perbandingan antara santan kelapa dan jumlah ragi atau bakteri atau enzim yang dipergunakan, serta kondisi operasi fermentasi. Untuk maksud tersebut perlu diadakan penelitian tentang fermentasi kelapa menjadi minyak, dengan ragi ( candida utilis dan saccaromyces ellipsoides , dengan balcteri lactobacillus bulgaricus 1actobacillus casei, serta enzim protease. Penentuan kualitas minyak kelapa Minyak kelapa kualitasnya ditentukan oleh beberapa faktor antara lain : angka iod, angka asam lemak bebas, angka peroksida, dan kadar air Angka iod mencenninkan ketidak jenuhan asam lemak penyusun minyak, makin tinggi angka iod makin banyak ikatan rangkapnya, hal ini memacu laju oksidasi, sehingga minyak cepat menjadi tengik Minyak dengan angka iod tinggi apabila dikonsumsi akan memacu pembentukan kolesterol ( (Tranggono, 1988) Angka again yang besar menunjukkan asam lemak bebas yang besar yang berasal dari hidrolisa minyak atau karena proses pengolahan yang kurang baik, makin tinggi angka asam, makin rendah kualitasnya.(Slamet, 1989) Angka peroksida berfungsi untuk menguji kerusaknn minyak karena oksidasi, atau autooksidasi, yang menyebabkan minyak menjadi tengik (rancid), sehingga menyebabkan aroma dan rasa yang tidak dikehendaki.. Makin tinggi angka peroksida makin rendah kualitasnya.(Slamet, 1989) Rancangan percobaan yang digunakan adalab rancangan acak lengkap berblok. Surnber variasi adalah perbandingan substrat dan katalisator Dari pengamatan yang telah dilakukan biokatalisator yang efektif berturut-turut adalah kepiting, R.oligosporus, L.bulgaricus, S.cereviceae dan. C.utilis dengan menggunakan perbandingan antara substrat dan inokulum tetap didapatkan basil paling optimum adalah dengan perbandingan 3:1. Efisiensi yang diperoleh dengan biokatalisator diatas berturut-turut : 76,45%, 56%, 41,3%, 26,68% dan 20,38% Pengujian angka peroksida sampai urnur simpan satu minggu besamya 3,3-3,7, angka asam 0,017 dan angka iod 8,1 , basil ini mernenuhi standar untuk minyak makan. 
Sumber :  http://eprints.undip.ac.id

Rabu, 07 Januari 2015





Microbio-Lab
Jual Media Lab Mikroba dan Aneka Isolat Mikroba
Telp : 089630561325






Mikroorganisme adalah mahluk hidup jazad renik yang dalam pertumbuhannya membutuhkan nutrisi yang cukup, baik bahan alami maupun sintetis. Media berfungsi untuk menumbuhkan bakteri, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah bakteri. Jenis nutrisi yang digunakan bergantung kepada jenis bakteri yang dikembangbiakkan. Proses pembuatan media harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media.
Untuk menciptakan keadaan lingkungan yang tepat secara sintetis sebagai pengganti keadaan alam, maka diperlukan persyaratan tertentu agar bakteri dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam media. Persyaratan tersebut yaitu: 1). Media harus mengandung semua unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri; 2). Media harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan bakteri; 3). Media harus dalam keadaan steril, artinya sebelum ditanami bakteri yang dimaksud tidak ditumbuhi oleh mikrobia lain.
A.    Bentuk media
Bentuk media ditentukan oleh ada tidaknya penambahan zat pemadatan, seperti agar-agar, gelatin dan sebagainya. Ada tiga bentuk media, yaitu:
1).Media padat
Media digunakan bahan pemadat, misalnya agar-agar. Jumlah tepung agar yang ditambahkan tergantung kepada jenis mikrobia yang dibiakkan. Bila mikrobia memerlukan kadar air tinggi maka jumlah tepung agar harus rendah/sedikit, tetapi bila kadar air harus rendah makan penambahan tepung agar harus lebih banyak. Media padat umumnya dipergunakan untuk bakteri, ragi, jamur atau mikroalgae. Media ini terdiri dari tiga macam bentuk, yaitu:
  • Bentuk lempeng, media dibekukan di dalam cawan petri.
  • Bentuk miring, media dibekukan dalam keadaan miring di dalam tabung reaksi.
  • Bentuk tegak, media dibekukan dalam keadaan tegak dalam tabung.
2. Media cair
Jika pengembangbiakan tidak ditambahkan zat pemadat. Umumnya dipergunakan untuk pembiakan mikroalgae, bakteri dan ragi.
3. Media semi padat atau semi cair,
            Jika penambahan zat pemadat hanya 50% atau kurang. Umumnya diperlukan untuk pertumbuhan mikrobia yang banyak memerlukan kandungan air dan hidup anaerobik atau fakultatif, atau untuk pemeriksaan pergerakan bakteri.
B. Susunan Media
             Sesuai dengan fungsi fisiologi dan masing-masing komponen yang terdapat di dalam media, maka susunan media mempunyai kesamaan isi, yaitu:
  • Kandungan air
  • Kandungan nitrogen, baik berasal dari protein, asam amino, dan senyawa lain yang mengandung nitrogen. Sebagian besar digunakan untuk sintesis protein dan asam-asam nukleat.
  • Kandungan karbon berasal dari karbohidrat, lemak, dan senyawa-senyawa lain yang diperlukan sebagai sumber energi bagi reaksi-reaksi sintesis dalam pertumbuhan, pemeliharaan keseimbangan cairan, bergerak dan sebagainya.
  • Kandungan garam-garam anorganik, baik unsur makro maupun mikro, seperti fosfat, potasium, sodium, besi, mangan, magnesium, dan sulfat
  • Kandungan vitamin dan asam-asam amino sebagai unsur tambahan bagi pertumbuhan dan sintesis metabolik esensial. 
C. Jenis Media
             Berdasarkan persyaratan mengenai susunan media bagi pertumbuhan bakteri, maka media dapat berupa:
  1. Media alami
            Yaitu media yang disusun oleh bahan-bahan alami seperti kentang, touge, daging, umbi-umbian dan sebagainya, pada saat ini media alami yang banyak digunakan adalah dalam bentuk kultur jaringan. Contoh media alami yang paling banyak digunakan adalah penggunaan telur untuk pertumbuhan dan perkembanganbiakan virus.
  1. Media Sintetik Atau Buatan
Yaitu media yang disusun oleh senyawa-senyawa kimia baik organik maupun anorganik.
                        Contoh media sintetik bagi pertumbuhan bakteri Clostridium:
                        K2HPO4              0,5 gram
                        KH2PO4              0,5 gram
                        MgSO4                0,1 gram
                        NaCl                0,1 gram
                        CaCO3             secukupnya
  1. Media Semi Sintetik
Yaitu media yang tersusun oleh campuran bahan-bahan alami dan bahan-bahan sintetik.
                        Misalnya:        Kaldu nutrisi untuk pertumbuhan bakteri:
                                                Pepton                         10 gram
                                                Ekstrak daging 10 gram
                                                NaCl                            5 gram
                                                Aquades                       1 liter
D. SIFAT MEDIA
             Penggunaan media bukan hanya untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan mikrobia, tetapi juga untuk tujuan-tujuan lain seperti isolasi, seleksi dan diferensiasi biakan yang didapat. Artinya penggunaan beberapa jenis zat tertentu  yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perrkembangbiakkan mikrobia, banyak juga dilakukan dan digunakan. Sehingga masing-masing media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya. Berdasarkan sifat-sifatnya, media dibedakan menjadi:
1. Media dasar/ umum
             Yaitu media pembiakan sederhana yang mengandung zat-zat yang umum diperlukan oleh sebagian besar mikroorganisme dan dipakai juga sebagai komponen dasar untuk membuat media pembiakan lain.
2. Media diperkaya
             Media ini dibuat dari media dasar dengan penambahan bahan-bahan lain umtuk mempersubur pertumbuhan mikrobia tertentu, yang pada media dasar tidak dapat tumbuh dengan baik. Untuk itu dibutuhkan beberapa penambahan nutrisi pengaya ke dalam media dasar yang dapat menyokong pertumbuhan mikrobia, misalnya dengan menambahkan darah, serum atau ekstrak hati.
3. Media diferensial
            Media ini digunakan untuk membedakan bentuk dan karakter koloni mikrobia yang tumbuh. Beberapa mikrobia dapat tumbuh di dalam media ini, tetapi hanya beberapa jenis saja yang mempunyai penampilan pertumbuhan yang khas. Media ini berfungsi untuk isolasi dan identifikasi bakteri.
4. Media selektif
            Media ini digunakan untuk menyeleksi  pertumbuhan mikrobia yang diperlukan dari campuran mikrobia-mikrobia lain yang terdapat dalam bahan yang akan diperiksa. dengan penambahan zat-zat tertentu mikrobia yang dicari dapat dipisahkan dengan mudah. Media ini sangat berguna untuk identifikasi. Contohnya, SS-agar (agar Salmonella-Shigella) yang digunakan untuk mengisolasi bakteri jenis  Salmonella dan Shigella.
5. Media Uji
            Media ini digunakan untuk pengujian senyawa atau benda tertentu dengan bantuan mikrobia. Misalnya, media penguji vitamin, antibiotika, residu pestisida, residu deterjen dan lain-lain. Media ini disamping tersusun oleh senyawa dasar untuk kepentingan pertumbuhan dan perkembangbiakan mikrobia, juga sejumlah senyawa tertentu yang akan diuji.
6. Media Enumerasi
             Media ini digunakan untuk menghitung jumlah mikrobia pada suatu biakan. Media ini dapat berbentuk media dasar, media selektif, media diferensial maupun media uji.
E. Penyiapan Media
             Media alami, misalnya susu skim, tidak menimbulkan masalah di dalam penyiapannya sebagai media; hanya semata-mata dituang kedalam wadah-wadah yang sesuai seperti tabung reaksi atau labu dan disterilkan sebelum digunakan. Media dalam bentuk kaldu nutrien atau yang mengandung agar disiapkan dengan cara melarutkan masing-masing bahan yang dibutuhkan atau lebih mudah lagi dengan cara menambahkan air pada suatu air pada produk komersial berbentuk medium bubuk yang sudah mengandung semua nutrien yang dibutuhkan. Pada praktisnya semua media tersebut secara komersial dalam bentuk bubuk, dan juga dalam bentuk siap pakai di dalam cawan-cawan petri, tabung atau botol.
                  Penyiapan media bakteriologis selain media alamiah mengikuti langkah-langkah berikut:
  • Setiap komponen atau medium terdehidrasi yang lengkap dilarutkan dalam air suling dengan volume yang sesuai.
  • pH (derajat keasaman dan kebasaan) medium fluida ditentukan dan disesuaikan (dengan penambahan larutan basa atau asam) dengan nilai optimum bagi pertumbuhan bakteri yang akan dikultivasi. pH ditentukan dengan menggunakan indikator pH.
  • Medium tersebut dituang kedalam wadah yang sesuai seperti tabung, labu, atau botol dan ditutup dengan sumbat kapas atau tutup plastik atau logam sebelum disterilisasi.
  • Medium itu disterilkan, biasanya dengan menggunakan autoklaf; proses ini menggunakan panas dibawah tekanan uap.
F. Kondisi fisik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe bakteri, dibutuhkan suatu kombinasi nutrien serta lingkungan  fisik yang sesuai, seperti;
1)            Suhu
2)            Atmosfer gas
3)            Keasaman atau kebasaan (pH)
G. Pilihan Media Dan Kondisi Inkubasi
Untuk dapat memilih dengan baik media dan kondisi fisik, haruslah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1)      Apakah bakteri yang akan diisolasi itu aerobik atau anaerobik?
2)      Apakah spesimen itu mengandung bakteri autotrofik atau heterotrofik, dan bila demikian apakah kedua tipe tersebut akan dikultivasi?
3)      Apakah spesimen itu mengandung organisme termofilik, mesofilik atau psikrofilik?
Berikut ini beberapa media yang sering digunakan secara umum dalam mikrobiologi:
1.  Lactose Broth
          Lactose broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment broth) untuk Salmonellae dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organisme koliform. Pertumbuhan dengan pembentukan gas adalah presumptive test untuk koliform. Lactose broth dibuat dengan komposisi 0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa.
2. EMBA (Eosin Methylene Blue Agar)
Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikrobia yang memfermentasikan laktosa seperti S. aureus, P. aerugenosa, dan Salmonella. Mikrobia yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan mikrobia lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen blue membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama P. Aerugenosa dan Salmonella sp dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamanapun media ini sangat baik untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli. Agar EMB (levine) merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang menggunakan eosin dan metilin bklue sebagai indikator memberikan perbedaan yang nyata antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak. Medium tersebut mengandung sukrosa karena kemempuan bakteri koli yang lebih cepat meragikan sukrosa daripada laktosa. Untuk mengetahui jumlah bakteri coli umumnya digunakan tabel Hopkins yang lebih dikenal dengan nama MPN (most probable number) atau tabel JPT (jumlah perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh air.
3. Nutrient Agar
            Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Untuk komposisi nutrien agar adalah eksrak beef 10 g, pepton 10 g, NaCl 5 g, air desitilat 1.000 ml dan 15 g agar/L. Agar dilarutkan dengan komposisi lain dan disterilisasi dengan autoklaf pada 121°C selama 15 menit. Kemudian siapkan wadah sesuai yang dibutuhkan.
4. Nutrient Broth
           Nutrient broth merupakan media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair. Intinya sama dengan nutrient agar. Nutrient broth dibuat dengan cara sebagai berikut:
1)      Larutkan 5 g pepton dalam 850 ml air distilasi/akuades.
2)      Larutkan 3 g ekstrak daging dalam larutan yang dibuat pada langkah pertama.
3)      Atur pH sampai 7,0.
4)      Beri air distilasi sebanyak 1.000 ml.
5)      Sterilisasi dengan autoklaf.
5. MRSA (deMann Rogosa Sharpe Agar)
            MRSA merupakan media yang diperkenalkan oleh De Mann, Rogosa, dan Shape (1960) untuk memperkaya, menumbuhkan, dan mengisolasi jenis Lactobacillus dari seluruh jenis bahan. MRS agar mengandung polysorbat, asetat, magnesium, dan mangan yang diketahui untuk beraksi/bertindak sebagai faktor pertumbuhan bagi Lactobacillus, sebaik nutrien diperkaya MRS agar tidak sangat selektif, sehingga ada kemungkinan Pediococcus dan jenis Leuconostoc serta jenis bakteri lain dapat tumbuh. MRSB merupakan media yang serupa dengan MRSA yang berbentuk cair/broth.
MRS agar mengandung:
1)      Protein dari kasein 10 g/L
2)      Ekstrak daging 8,0 g/L
3)      Ekstrak ragi 4,0 g/L
4)      D (+) glukosa 20 g/L
5)      Magnesium sulfat 0,2 g/L
6)      Agar-agar 14 g/L
7)      Dipotassium hidrogen phosphate 2 g/L
8)      Tween 80 1,0 g/L
9)      Diamonium hidrogen sitrat 2 g/L
10)  Natrium asetat 5 g/L
11)  Mangan sulfat 0,04 g/L
6. Trypticase Soy Broth (TSB)
            TSB adalah media broth diperkaya untuk tujuan umum, untuk isolasi, dan penumbuhan bermacam mikroorganisme. Media ini banyak digunakan untuk isolasi bakteri dari spesimen laboratorium dan akan mendukung pertumbuhan mayoritas bakteri patogen. Media TSB mengandung kasein dan pepton kedelai yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen lainnya yang membuatnya menjadi media bernutrisi untuk bermacam mikroorganisme. Dekstrosa adalah sumber energi dan natrium klorida mempertahankan kesetimbangan osmotik. Dikalium fosfat ditambahkan sebagai buffer untuk mempertahankan pH.
7. Plate Count Agar (PCA)
             PCA digunakan sebagai medium untuk mikrobia aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. PCA dibuat dengan melarutkan semua bahan (casein enzymic hydrolisate, yeast extract, dextrose, agar) hingga membentuk suspensi 22,5 g/L kemudian disterilisasi pada autoklaf (15 menit pada suhu 121°C). Media PCA ini baik untuk pertumbuhan total mikrobia (semua jenis mikrobia) karena di dalamnya mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.
8. Potato Dextrose Agar (PDA)
              PDA digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri. Cara membuat PDA adalah mensuspensikan 39 g media dalam 1 liter air yang telah didestilasi. campur dan panaskan serta aduk. Didihkan selama 1 menit untuk melarutkan media secara sempurna. Sterilisasi pada suhu 121°C selama 15 menit. Dinginkan hingga suhu 40-45°C dan tuang dalam cawan petri dengan pH akhir 5,6+0,2.
9. VRBA (Violet Red Bile Agar)
               VRBA dapat digunakan untuk perhitungan kelompok bakteri Enterobactericeae. Agar VRBA mengandung violet kristal yang bersifat basa, sedangkan sel mikrobia bersifat asam. Bila kondisi terlalu basa maka sel akan mati. Dengan VRBA dapat dihitung jumlah bakteri E.coli. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat VRBA adalah yeast ekstrak, pepton, NaCl, empedu, glukosa, neutral red, kristal violet, agar). Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan 1 liter air yang telah didestilasi. Panaskan hingga mendidih sampai larut sempurna. Dinginkan hingga 50-60°C. Pindahkan dalam tabung sesuai kebutuhan, pH akhir adalah 7,4. Campuran garam bile dan kristal violet menghambat bakteri gram positif. Yeast ekstrak menyediakan vitamin B-kompleks yang mendukung pertumbuhan bakteri. Laktosa merupakan sumber karbohidrat. Neutral red sebagai indikator pH. Agar merupakan agen pemadat.






Microbio-Lab
Jual Aneka Isolat Mikroba Untuk Riset
Telp : 089630561325









Aspergillus fumigatus adalah jamur dari genus Aspergillus , dan merupakan salah satu spesies Aspergillus yang paling umum menyebabkan penyakit pada individu dengan imunodefisiensi .

                A. fumigatus, sebuah saprotroph luas di alam, biasanya ditemukan di dalam tanah dan membusuk bahan organik, seperti tumpukan kompos, di mana ia memainkan peran penting dalam karbon dan nitrogen daur ulang. Koloni jamur hasil dari konidiofor ribuan menit abu-abu-hijau konidia (2-3 m) yang siap menjadi udara. Selama bertahun-tahun, A. fumigatus dianggap hanya bereproduksi secara aseksual, karena tidak kawin atau meiosis pernah diamati. Pada tahun 2008, bagaimanapun, A. fumigatus telah terbukti memiliki siklus reproduksi seksual berfungsi penuh, 145 tahun setelah deskripsi aslinya oleh Fresenius.  Meskipun A. fumigatus terjadi di daerah dengan iklim dan lingkungan yang sangat berbeda, ini akan menampilkan variasi genetik yang rendah dan kurangnya diferensiasi genetik populasi dalam skala global. Dengan demikian kemampuan untuk seks dipertahankan meskipun variasi genetik sedikit diproduksi.

                Jamur ini mampu tumbuh pada suhu 37 ° C atau 99 ° F ( suhu tubuh manusia yang normal ), dan dapat tumbuh pada suhu sampai 50 ° C atau 122 ° F, dengan konidia hidup pada 70 ° C atau 158 ° F-kondisi itu teratur bertemu di pemanasan sendiri tumpukan kompos. Spora yang di mana-mana di atmosfer, dan diperkirakan bahwa setiap orang menghirup beberapa ratus spora setiap hari; biasanya ini dengan cepat dihilangkan oleh sistem kekebalan tubuh pada orang sehat. Dalam immunocompromised individu, seperti penerima transplantasi organ dan orang-orang dengan AIDS atau leukemia , jamur ini lebih cenderung menjadi patogen , over-menjalankan pertahanan lemah tuan rumah dan menyebabkan berbagai penyakit umumnya disebut aspergillosis . Beberapa faktor virulensi telah didalilkan untuk menjelaskan hal ini oportunistik perilaku.

                Ketika kaldu fermentasi A. fumigatus diputar, sejumlah indolic alkaloid dengan anti mitosis sifat ditemukan. Senyawa yang menarik telah kelas yang dikenal sebagai tryprostatins, dengan spirotryprostatin B kesejahteraan minat khusus sebagai obat antikanker.

                A. fumigatus tumbuh pada bahan bangunan tertentu dapat menghasilkan genotoksik dan sitotoksik mikotoksin , seperti gliotoxin .


                Genom
                A. fumigatus memiliki stabil haploid genom dari 29,4 juta pasangan basa . Urutan genom dari tiga spesies-Aspergillus Aspergillus fumigatus, Aspergillus nidulans , dan Aspergillus oryzae -were diterbitkan dalam jurnal Nature pada bulan Desember 2005.
                Patogenesis
                A. fumigatus adalah penyebab paling sering dari infeksi jamur invasif pada orang imunosupresi, yang meliputi pasien yang menerima terapi imunosupresif untuk autoimun atau penyakit neoplastik, penerima transplantasi organ, dan pasien AIDS. A. fumigatus terutama menyebabkan infeksi invasif di paru-paru dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada individu-individu. Selain itu, A. fumigatus dapat menyebabkan infeksi kronis paru, alergi aspergilosis bronkopulmoner , atau penyakit alergi pada host imunokompeten.
                Bawaan kekebalan Response
                Paparan inhalasi ke udara konidia kontinu karena distribusi di mana-mana dalam lingkungan. Namun, pada orang sehat sistem kekebalan tubuh bawaan merupakan penghalang berkhasiat untuk A. Infeksi fumigatus. Sebagian besar konidia dihirup dihapus oleh aksi mukosiliar dari epitel pernapasan. Karena ukuran kecil konidia, banyak deposito konidia dalam alveoli di mana mereka berinteraksi dengan epitel dan efektor bawaan sel. alveolar makrofag memfagositosis dan menghancurkan konidia dalam phagosomes mereka. sel epitel, khususnya tipe II pneumocytes, juga menginternalisasi konidia yang lalu lintas ke lisosom mana konidia tertelan hancur. sel kekebalan lini pertama juga berfungsi untuk merekrut neutrofil dan sel-sel inflamasi lainnya melalui pelepasan sitokin dan kemokin yang diinduksi oleh ligasi motif jamur khusus untuk patogen reseptor pengakuan . Neutrofil sangat penting untuk ketahanan aspergillosis, seperti yang ditunjukkan pada individu neutropenia, dan mampu eksekusi kedua konidia dan hifa melalui berbeda, mekanisme non-fagositosis. Hyphae terlalu besar untuk sel-dimediasi internalisasi, dan dengan demikian neutrofil-dimediasi NADPH oksidase-diinduksi kerusakan merupakan pertahanan tuan rumah yang dominan terhadap hifa. Selain mekanisme sel-dimediasi ini eliminasi, peptida antimikroba yang disekresi oleh epitel saluran napas berkontribusi untuk menjadi tuan rumah pertahanan.
                Invasi
                Skema Invasive Aspergillus Infeksi. Hifa berkecambah baik dalam sel epitel atau dalam alveoli. Hifa memperpanjang melalui sel-sel epitel, akhirnya menyerang dan melintasi sel-sel endotel pembuluh darah dari itu. Dalam kasus yang jarang terjadi, fragmen hifa pecah dan menyebarkan melalui aliran darah.

                Individu imunosupresi rentan terhadap invasif A. Infeksi fumigatus, yang paling sering memanifestasikan aspergillosis paru sebagai invasif. Konidia dihirup yang menghindari tuan rumah kerusakan kekebalan adalah nenek moyang penyakit invasif. Konidia ini muncul dari dormansi dan membuat saklar morfologi hifa dengan berkecambah di hangat, lembab, lingkungan yang kaya nutrisi dari alveoli paru. Perkecambahan terjadi baik ekstrasel maupun tipe II Pneumosit endosomes mengandung konidia. Setelah perkecambahan, hasil pertumbuhan hifa filamen dalam penetrasi epitel dan penetrasi berikutnya dari endotel pembuluh darah. Proses angioinvasion menyebabkan kerusakan endotel dan menginduksi respon proinflamasi, ekspresi faktor jaringan dan aktivasi koagulasi cascade. Hal ini menyebabkan intravascular trombosis dan jaringan lokal infark , namun penyebaran fragmen hifa biasanya terbatas. Penyebaran melalui aliran darah hanya terjadi pada individu sangat immunocomprimised.
                Gizi Akuisisi
                A. fumigatus harus mendapatkan nutrisi dari lingkungan eksternal dalam rangka untuk bertahan hidup dan berkembang dalam inangnya. Banyak gen yang terlibat dalam proses tersebut telah terbukti berdampak virulensi melalui eksperimen yang melibatkan mutasi genetik. Contoh serapan hara termasuk bahwa logam, nitrogen, dan makromolekul seperti peptida.
Usulan siderophore Biosintetik Pathway Aspergillus fumigatus: Sida mengkatalisis langkah pertama dalam biosythesis kedua ekstraseluler siderophore triacetylfusarinine C dan ferricrocin intraseluler
                Iron Akuisisi
                Besi adalah diperlukan kofaktor bagi banyak enzim, dan dapat bertindak sebagai katalis dalam sistem transpor elektron. A. fumigatus memiliki dua mekanisme untuk penyerapan zat besi, akuisisi besi reduktif dan siderophore -dimediasi. akuisisi besi reduktif termasuk konversi besi dari besi (Fe +3) ke besi (Fe +2) negara dan selanjutnya serapan melalui FtrA, besi permease . Mutasi yang ditargetkan dari gen ftrA tidak menginduksi penurunan virulensi di murine model A. invasi fumigatus. Sebaliknya, mutasi SIDA, gen pertama di jalur biosintesis sideophore ditargetkan, terbukti penyerapan zat besi sideophore-dimediasi menjadi penting untuk virulensi. Mutasi hilir gen sideophore biosintesis SIDC, Sidd, sidF dan sidG menghasilkan dalam strain A. fumigatus dengan penurunan serupa dalam virulensi.  Mekanisme ini dari penyerapan zat besi muncul untuk bekerja secara paralel dan keduanya diregulasi dalam menanggapi kelaparan besi.
                Nitrogen asimilasi
                A. fumigatus dapat bertahan hidup pada berbagai berbeda nitrogen sumber, dan asimilasi nitrogen adalah penting secara klinis seperti yang telah ditunjukkan untuk mempengaruhi virulensi. Protein yang terlibat dalam asimilasi nitrogen diatur transcriptionally oleh gen AfareA di A. fumigatus. Mutasi yang ditargetkan dari gen afareA menunjukkan penurunan terjadinya kematian pada model tikus invasi. The Ras diatur protein RhbA juga telah terlibat dalam asimilasi nitrogen. RhbA ditemukan untuk transcriptionally diregulasi kontak berikut A. fumigatus dengan manusia endotel sel, dan strain dengan mutasi yang ditargetkan dari gen rhbA menunjukkan penurunan pertumbuhan pada sumber nitrogen miskin dan mengurangi virulensi in vivo .

                Paru-paru manusia mengandung sejumlah besar kolagen dan elastin , protein yang memungkinkan fleksibilitas jaringan. Aspergillus fumigatus memproduksi dan mengeluarkan elastases, protease yang membelah elastin untuk memecah polimer makromolekul untuk penyerapan. Sebuah hubungan yang signifikan antara jumlah produksi elastase dan invasi jaringan pertama kali ditemukan pada tahun 1984. isolat klinis juga telah ditemukan memiliki aktivitas elastase lebih besar dari strain lingkungan A. fumigatus. Sejumlah elastases telah ditandai, termasuk yang dari protease serin , protease aspartat , dan metaloprotease keluarga. Namun, redundansi besar elastases ini telah menghambat identifikasi efek tertentu pada virulensi.
                Metabolit sekunder dalam pengembangan jamur
Faktor transkripsi LaeA mengatur ekspresi beberapa gen yang terlibat dalam produksi metabolit sekunder di Aspergillus spp.

.               Siklus hidup jamur berfilamen termasuk Aspergillus spp terdiri dari dua tahap: a hifa fase pertumbuhan dan reproduksi ( sporulasi ) tahap. Beralih antara pertumbuhan dan fase reproduksi jamur ini adalah diatur sebagian oleh tingkat produksi metabolit sekunder. Hal ini diyakini metabolit sekunder diproduksi untuk mengaktifkan sporulasi dan pigmen yang diperlukan untuk struktur sporulasi. sinyal protein G mengatur produksi metabolit sekunder. Genome sequencing telah mengungkapkan 40 gen potensial yang terlibat dalam produksi metabolit sekunder termasuk mikotoksin, yang diproduksi pada saat sporulasi.

                Gliotoxin adalah mikotoksin yang mampu mengubah pertahanan tuan rumah melalui imunosupresi. Neutrofil adalah target utama gliotoxin. Gliotoxin mengganggu fungsi leukosit dengan menghambat produksi migrasi dan superoksida dan menyebabkan apoptosis pada makrofag.  Gliotoxin mengganggu respon proinflamasi melalui penghambatan NF-kB .
Transkripsi Peraturan Gliotoxin

                LaeA dan Gliz merupakan faktor transkripsi dikenal untuk mengatur produksi gliotoxin. LaeA adalah regulator universal produksi metabolit sekunder di Aspergillus spp. LaeA mempengaruhi ekspresi 9,5% dari A. fumigatus genom, termasuk banyak gen biosintesis metabolit sekunder seperti sintetase nonribosomal peptida (NRPSs).  Produksi berbagai metabolit sekunder, termasuk gliotoxin, mengalami gangguan dalam LaeA mutan (ΔlaeA) ketegangan.  The ΔlaeA mutan menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap makrofag fagositosis dan penurunan kemampuan untuk membunuh neutrofil ex vivo . LaeA diatur racun, selain gliotoxin, mungkin memiliki peran dalam virulensi sejak hilangnya produksi gliotoxin saja tidak rekapitulasi yang hypo-virulen ΔlaeA patotipe.





Microbio-Lab
Jual Aneka Isolat Mikroba Untuk Riset
Telp : 089630561325









A. flavus ditemukan secara global sebagai saprofit di tanah dan menyebabkan penyakit pada banyak tanaman pertanian penting. Host umum patogen adalah biji-bijian sereal, kacang-kacangan, dan kacang-kacangan pohon. Secara khusus, A. Infeksi flavus menyebabkan busuk tongkol jagung dan cetakan kuning kacang sebelum atau setelah panen.  Infeksi dapat hadir di lapangan, preharvest, pascapanen, selama penyimpanan, dan selama transit. Hal ini umum untuk patogen berasal sementara tanaman inang masih di lapangan; Namun, gejala dan tanda-tanda patogen seringkali tak terlihat. A. flavus memiliki potensi untuk menginfeksi bibit dengan sporulasi pada biji terluka. Dalam butir, patogen dapat menyerang embrio benih dan menyebabkan infeksi, yang menurunkan perkecambahan dan dapat menyebabkan bibit terinfeksi ditanam di lapangan. Patogen juga dapat menghitamkan embrio, merusak bibit, dan membunuh bibit, yang mengurangi kadar dan harga biji-bijian. Insiden A. peningkatan infeksi flavus dengan adanya serangga dan jenis stres pada host di lapangan sebagai akibat dari kerusakan. Menekankan termasuk tangkai busuk, kekeringan, kerusakan daun yang parah, dan / atau kurang dari kondisi penyimpanan yang ideal.  Secara umum, kondisi kelembaban yang berlebihan dan suhu tinggi biji-bijian dan kacang-kacangan penyimpanan meningkatkan terjadinya A. flavus produksi aflatoksin.  Pada mamalia, patogen dapat menyebabkan kanker hati melalui konsumsi pakan yang terkontaminasi atau aspergillosis melalui pertumbuhan invasif.
Gejala dan tanda-tanda

A. flavus koloni umumnya massa bubuk spora kuning-hijau pada permukaan atas dan kemerahan emas pada permukaan yang lebih rendah. Dalam kedua biji-bijian dan kacang-kacangan, infeksi diminimalkan ke daerah kecil, dan perubahan warna dan kebodohan dari daerah yang terkena sering terlihat. Pertumbuhan yang cepat dan koloni muncul berbulu halus atau bubuk tekstur.

Hifa pertumbuhan biasanya terjadi dengan benang-seperti percabangan dan menghasilkan miselia . Hifa septate dan hialin . Setelah dibentuk, miselium mengeluarkan enzim degradatif atau protein yang dapat memecah nutrisi kompleks (makanan). Helai hifa individu tidak biasanya terlihat oleh mata telanjang; Namun, konidia memproduksi tikar miselium tebal sering terlihat. Para conidiospores adalah spora aseksual yang dihasilkan oleh A. flavus selama reproduksi.

Para konidiofor A. flavus kasar dan berwarna. phialides keduanya uniseriate (diatur dalam satu baris) dan biseriate .

Baru-baru ini, Petromyces diidentifikasi sebagai tahap reproduksi seksual A. flavus, dimana ascospores berkembang dalam sclerotia .  Negara seksual jamur heterotolik ini muncul ketika strain berlawanan jenis perkawinan yang dibudidayakan bersama-sama. Reproduksi seksual terjadi antara strain yang kompatibel secara seksual milik kelompok kompatibilitas vegetatif yang berbeda.

A. flavus kompleks dalam morfologi dan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok berdasarkan ukuran sclerotia dihasilkan. Kelompok I terdiri dari L strain dengan sclerotia lebih besar dari 400 m dengan diameter. Kelompok II terdiri dari S strain dengan sclerotia kurang dari 400 m dengan diameter. Kedua L dan S strain dapat menghasilkan dua aflatoksin yang paling umum (B1 dan B2). Unik untuk strain S adalah produksi aflatoksin G1 dan G2 yang biasanya tidak diproduksi oleh A. flavus.  The L regangan lebih agresif dari strain S, tapi menghasilkan lebih sedikit aflatoksin. L regangan juga memiliki titik homoeostatic lebih asam dan menghasilkan kurang sclerotia dari strain S dalam kondisi membatasi lebih.
Siklus penyakit

A. flavus overwinters dalam tanah dan muncul sebagai propagul pada membusuk, baik sebagai miselia atau sclerotia . Sclerotia berkecambah untuk menghasilkan hifa tambahan dan spora aseksual panggilan konidia . Konidia ini dikatakan sebagai inokulum utama untuk A. flavus. Para propagul dalam tanah, yang sekarang konidia, disebarkan oleh angin dan serangga (seperti bau bug atau lygus bug). Konidia yang dapat mendarat di dan menginfeksi baik biji-bijian atau kacang-kacangan. Spora masuk jagung melalui sutra dan dengan demikian menginfeksi kernel. Konidiofor dan konidia yang diproduksi pada musim semi dari permukaan sclerotial. Ada inokulum sekunder untuk A. flavus, yang konidia pada bagian daun dan daun. A. flavus tumbuh pada daun setelah kerusakan oleh daun-makan serangga. Serangga dikatakan menjadi sumber inokulum dan meningkatkan produksi inokulum. 
Sumber :  http://en.wikipedia.org/wiki/Aspergillus_flavus


Unordered List

Sample Text

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

Sample Text

Followers

Featured Posts

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget